COUNTDOWN TO
MAYBANK BALI MARATHON 2017

FOLLOW FacebookTwitterInstagramYoutube


#MBM2016 Silver Club: Yustrida Maisa

#MBM2016 Silver Club: Yustrida Maisa

Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, berlari sejauh 42 kilometer merupakan sebuah tantangan yang sangat besar. Pelari musiman saja akan berpikir beberapa kali sebelum mendaftar kategori Full Marathon, terbayang rasa sakit luar biasa yang akan diderita kaki, serta keletihan luar biasa yang biasanya dirasakan setelah berlari lebih dari tiga jam. Belum lagi jumlah waktu yang harus diberikan terhadap latihan, sering membuat pelari enggan merelakan waktu rekreasi yang sudah banyak termakan oleh pekerjaan dan macet.

Karena itulah, orang seperti Ibu Yustrida Maisa cukup langka.

Description: Macintosh HD:Users:dimazsoegiharto:Google Drive:Bali Marathon Mac:MBM Blog:4. Yustrida Maisa:Foto yustrida:Yustrida Nusantarun.jpeg
Yustrida Maisa berlari sejauh 130km demi pendidikan anak di Indonesia

Beliau telah mengikuti kategori Full Marathon di Bali Marathon selama lima kali berturut-turut tanpa istirahat. Sejak Bali Marathon pertama kali diselenggarakan di tahun 2012, beliau selalu ikut dan selalu mendaftar untuk kategori yang paling jauh tersebut. Fakta tersebut lebih mengagumkan lagi mengingat Ibu Yustrida sudah tidak remaja lagi.

“Run for fun”, kata beliau sewaktu ditanya apa yang membuat dia mencintai olah raga yang satu ini.

Dia tidak terlalu berambisi untuk memperbaiki waktu Personal Best-nya. Bahkan waktu tahun 2013, dia banyak menghabiskan waktunya untuk menemani dan membantu para pelari yang beliau temui kehabisan tenaga sepanjang rute.

“Ada sekitar 6 – 7 pelari yang saya semangati dan bantu”. Dengan dibantu “kantong doraemon” yang penuh ransum perang (seperti gel, makanan, minyak otot, dan plester), beliau memilih untuk memberikan motivasi tambahan bagi para pelari yang terancam tidak dapat menyelesaikan lomba mereka.

“Saya cepat-cepat juga tidak akan secepat atlit”, kata beliau sambil mengingat-ngingat lagi acara Bali Marathon tersebut.

Pada tahun-tahun berikutnya, beliau senang melihat bahwa pelari sudah lebih mengetahui tantangan yang terkandung di dalam kategori Full Marathon, sehingga jumlah pelari yang mengalami kesulitan berkurang cukup jauh.

Ibu Yustrida sendiri tidak dilahirkan sebagai seorang pelari jarak jauh super, dengan otot kaki dari kawat, jantung sekuat mesin Ferrari dan disiplin mental layak tentara elit.

Di tahun 2007, guru biologi dari SMA 8 ini diserang typhus yang cukup parah. Diagnosa dokter saat itu adalah karena gaya hidup beliau yang kurang sehat. Memang, beliau mengakui bahwa dia hampir tidak pernah berolahraga ataupun menjaga makan, dikondisikan oleh sibuknya pekerjaan layaknya warga ibu kota lainnya. Benar saja, setelah dokter melihat hasil pemeriksaan darah beliau, terlihat dengan jelas bahwa gaya hidup beliau pada saat itu berpotensi mengundang maut.

Dengan tidak sedikit paksaan dan rasa takut, beliau memulai karir larinya dengan berlari di treadmill, dimana dalam 20 menit beliau hanya sanggup berlari 2 kilometer. Terus beliau berjuang untuk pelan-pelan menambah jarak dan kekuatan beliau, sehingga pada tahun 2010 dia mengikuti acara lomba lari pertamanya. Di acara tersebutlah beliau bertemu dengan komunitas pelari lain yang pada saat itu mulai menjamur di ibu kota. Terpacu terus, beliau terus mengikuti acara-acara lari sampai di akhir tahun 2011, teman-teman beliau mengajak dia ikutan Bali Marathon di tahun 2012.

Sampai saat itu, beliau paling jauh hanya pernah berlari sampai 21 kilometer. Tanpa program latihan yang canggih dan dibekali prinsip “Just Run”, beliau meningkatkan porsi latihan dan mencari tempat yang banyak tanjakan guna mensimulasikan rute lomba yang akan dihadapi. Persiapan dan mental baja beliau berhasil membawa dia menyeberangi garis finish di acara Bali Marathon perdana tersebut. Dan sampai sekarang dia belum berhenti berlari.

Description: Macintosh HD:Users:dimazsoegiharto:Google Drive:Bali Marathon Mac:MBM Blog:4. Yustrida Maisa:Foto yustrida:foto MBM Yustrida.jpeg
Yustrida Maisa di Bali Marathon nya yang ke 4 di tahun 2015

“Mungkin magic kali ya?”, jawab beliau waktu ditanya kenapa dia bisa mengikuti acara Bali Marathon sampai lima kali berturut-turut.

Mungkin benar kata beliau. Ditemani sorakan penduduk setempat yang menyemangati para pelari, diiringi oleh pertunjukan adat disamping sawah-sawah petani Bali, dan dikelilingi oleh pelari-pelari lain yang juga memahami rasa ecstasy dari berlari, Bali Marathon seperti mempunyai sihir tersendiri untuk orang-orang seperti Ibu Yustrida. Orang-orang yang, dengan berlari, dapat membuat perubahan positif yang nyata baik pada diri mereka sendiri dan orang lain.

Run. Find yourself.